Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syair. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Maret 2019

Syair Permintaan Hamba

10.21 0 Comments
Kuterdiam dibalik berjuta semu peristiwa
Kutatap beribu fatamorgana surya
Tiada berbelok sederajat mata
Terpaku akan satu peristiwa

Butiran hujan saksi segala
Dengan penuh segala kemelut jiwa
Memutar memory sembari menghamba
Kristal jatuh bentuk segara

Ya rabb...
Pangkulah tangan hamba
Dalan senda dan derita
Dengarlah hamba pinta
Dalam untaian syair nada

Ya rabb...
Hilangkanlah segelimang derita
Yang kini erat selimuti hamba
Dengan penuh lumpur dosa
Mengadahkan tangan dihadapan muka
Tuk dapat ampunan dari yang kuasa

Ya rabb..
Ilhamilah segala kehidupan hamba
Agar napas tak sia-sia
Berilah secercah cahaya
Agar benderang di pelupuk mata

Ya rabb......
Lapangkanlah segala jalan hamba
Tuju hidayah dari penguasa jagat raya
Tiaada lagi ribuan cara
Cukup merengkuh sujud di alas sajadah sutera






Situbondo, 18 Agustus 2011

Selasa, 29 Januari 2019

Murka Samudera Biru (Antologi Puisi 'Lautku Lautmu') -2

02.24 0 Comments

Senandung derai ombak merintih dalam pilu
Lambaian nyiur seolah menjadi saksi bisu
Jutaan ampas hidup manusia berceceran bersekutu
Sebab permukaannya penuh abu dan debu
Air samudra pun menghitam,sudah tak lagi biru

Samudra dan manusia pun seakan bersiteru
Manusia acuh, ampas hidup yang berceceran dianggapnya angin lalu
Sedang samudra muram dan memekik sabar, dalam bisu
Berharap detik kemudian manusia sadar  karena waktu
Menunggu tuk kembali membiru

Lelah menunggu, pun samudra murka tanpa malu
Gelombang bah merenggut nyawadi seluruh penjuru
Melululantakkan pondasi kuat yang terbangun sejak dahulu
Porak-porandakan dan hancurkan pesisir tanpa ragu
Inilah murka samudra biru

Rintihan, teriakan, dan tangisan menggelegar menusuk kalbu
Samudra tak peduli, sebab dendam begitu membelenggu
Gelombang mengganas dan menghitam menelan waktu
Jutaan pasang mata hanya pasrah menatap bencana dengan sayu
Inilah murka samudra biru

Sedetik pun berlalu
Sebagian merasa malu pada samudra biru
Semua mata terbuka, menyadari kesalahan di masa lalu
Untaian maaf pun bergema diseluruh penjuru
Senandung janji terucap mantap tuk buat samudra kembali membiru

Di sudut Pulau Jawa, 2015


Syair Duka Segara (Antologi Puisi 'Lautku Lautmu') -1

02.21 0 Comments


Senandung hempasan busa diatas pasir terbingkai dalam doa
Debur ombak, sesekali menjadi alunan syahdu pengantar duka
Semburat kuning kemerahan diujung segara menambah kemelut senja
Nyiur melambai, menyeringai seolah mengutuk hamparan samudra

Disana, tepat ditengah samudra
Ribuan manusia meregang nyawa
Nyawa hilang tanpa peduli asal usul raga dan tujuannya
Gelombang rontokkan nyawa tanpa ampun dengan keganasannya

Nelayan yang mencari penghidupan hajat manusia
Balita yang tengah berlibur dengan keluarga
Tentara yang tengah mengabdi karena tugas kenegaraannya
Hingga pejabat yang melintas karena urusan pentingnya
Semua, ditelannya

Tak peduli bagaimana, tergelincir ataupun badai segara
Semua ditelannya
Tanpa peduli, ada jutaan pasang mata sayu yang menunggu di sudut pengharapan samudra
Tak peduli, beban apa yang akan ditinggalkan sepeninggalnya

Hei segara! Hei Samudra!
Sebenarnya, siapa yang kau puja?
Sang Pencipta Jagat Raya atau yang lainnya?
Mengapa kau telan semuanya?
Mulai yang masih balita, belia, hingga renta?
Apa tujuanmu sebanarnya?
Apakah benar untuk menjadi prajurit kerajaan bawah samudra?

Sadar Segara!
Pemegang kendali di dunia ini hanya Yang Maha Kuasa
Bukan Ratu, Raja seperti yang kau duga
Lihatlah sudut sana
Ada bayi mungil yang kehilangan ayahnya
Ada gadis kecil yang kehilangan ibunya
Ada ibu yang kehilangan anaknya
Ada suami yang kehilangan istrinya, dan sebaliknya
Pun, ada yang sebatang kara

Tengoklah, tak adakah satupun yang mengiris hatimu segara?
Dengan keangkuhanmu apakah kausadar banyak orang yang tersiksa? Menderita?
Mereka hanya menanti satu hal, segara!
Tak apa kau ambil nyawa, tapi tidak dengan raganya
Dalam syair duka ini, semua meminta
Kembalikan jasad mereka, segara!

Suatu tempat di sudut Indonesia, 2015





Rabu, 23 Januari 2019

Krisis Rute

04.01 0 Comments

Pada batas bayang monodekade,
Melodiku tak sadar mengutuk dan menghardik rute
Sesaat, indraku terpaku mematut cermin kemudian berlarian mengejar arogansi fanatisme
Kencang, dengan ambisi lampaui ritme
Jauh disana, letak mimpiku terbingkai kolase.

Aku tiba dipersimpangan jalan tepat di batas lebih dua dekade
Namun, seluruh indra nampaknya lelah berkampanye
Mata memutar meratap puluhan lintasan di ujung jalan dan aku tersesat ditengah rute
Ah, mental merunduk dan menyatakan stagnasi, seolah memberi kode
Dan demikian, tak ada petunjuk jalan, tak ada lalu lalang bantuan, ruteku terblokade!

Di dua dekade, ruteku terblokade
Di dua dekade, aku krisis rute

Besuki, 18 Januari 2018

Sabtu, 27 Oktober 2018

Opening Poem D'D Bagian 1 : F-R-A-M-E -

12.19 0 Comments
 
Bulir kayu meratapi ritme
Tertatih merajut senar dengan belati sore
Riaknya kejam membanting antusiasme
Sarkas lembut dalam frame, barikade. 

Lidahnya tanpa permisi memblokade kromosom anafase
Mental menyatakan stagnasi, memberi kode
Melodi monster terbayang tak berampun ribuan dekade
Tak sadar jika telah membunuh ruh per episode
Jijik. Bengis dan beringas terbuai fanatisme. 

Kenalkan, merekalah sang penyembah indah lekuk feminisme.
Pembunuh bersenjata lidah penghancur mental yang enteng kampanyekan 'jubek, raje'
Tiga nama pamungkas : tak pernah diadili sebab menjadi bunglon yang berkamuflase.
Si A, si B, si C.
Selamat terkurung dalam frame.

Kamis, 01 Januari 2015

Syair Pejuang Sastra

05.47 0 Comments
Yoanita Aisyah Anugraeny

Hei, pejuang sastra!
Tak usah gentar karena caci maki yang hina!
Tak usah mundur hanya karena bisikan syeitan dari neraka!
Tak usah menangis meratap karena para penghina jauh lebih hina!
Tak usah gundah gulana pikirkan akan jadi apa!

Syair Untuk Negeri

05.41 0 Comments
Yoanita Aisyah Anugraeny

Derap tegap langkah tubuh kekar selimuti pertiwi.
Separang bambu runcing terpangkal di bahu besi.
Berperang dan berjuang tuk lumpuhkan meriam koloni.
Butiran putih bersambut amis anyir aroma darah pribumi.